Salut kepada Jawa Pos yang telah menurunkan rangkaian reportase langsung dari sarang MILF (Moro Islamic Liberation Front) di Filipina (edisi 22 September 2009). Perspektif dari sisi MILF tersebut melengkapi pemahaman kita terhadap konflik Moro. Dari situ, kita mestinya bisa menentukan sikap secara lebih bijak dan akurat.
Hubungan diplomatik Indonesia dan Filipina telah terjalin selama enam dekade. Mulai era Orde Lama, Orde Baru, hingga Orde Reformasi, negara tetangga kita yang satu ini selalu bersikap baik kepada Indonesia. Tidak pernah ada konfrontasi “ganyang Filipina” atau semacamnya. Tidak ada pulau milik Indonesia yang hendak direbut. Tidak ada tenaga kerja Indonesia yang diperlakukan buruk. Dan tidak ada seni budaya bangsa yang diklaim seenaknya.
Presiden Soekarno dulu bersahabat dengan Presiden Diosdado Macapagal. Lalu puluhan tahun kemudian, Presiden Megawati Soekarnoputri bersahabat dengan puteri Macapagal, Presiden Gloria Arroyo. Dalam era Orde Baru, Filipina bersama Indonesia ikut mendirikan ASEAN. Dan dalam tataran hukum, persahabatan kedua negara juga dikuatkan oleh UU nomor 20 tahun 2007 tentang kerja sama pertahanan dan keamanan.
Sementara jika mau jujur, justru ada elemen bangsa Indonesia yang belakangan ini kerap melakukan hal-hal yang merugikan bangsa Filipina. Sebagaimana yang diungkap dalam artikel Jawa Pos, para teroris Indonesia berperan besar dalam pembentukan dan pelatihan MILF, yang merupakan organisasi pemberontak yang melakukan aksi-aksi bersenjata terhadap rakyat sipil Filipina.
Ketika ada warga Indonesia yang ditangkap aparat Filipina berkaitan dengan kasus terorisme, sejumlah elemen dalam DPR RI malah sibuk membebaskannya. Elemen parlemen yang saat ini punya pengaruh besar terhadap kekuasaan Presiden Yudhoyono tersebut merupakan pendukung ambisi separatisme MILF.
Padahal, dari segi hubungan internasional, dukungan tersebut tidak bisa dibenarkan. Bagaimanapun, MILF adalah pemberontak terhadap sebuah negara berdaulat yang punya hubungan diplomatik dengan Indonesia. Dan karena konflik Moro serupa dengan separatisme di Aceh dan Papua, maka dukungan elemen Indonesia terhadap MILF tak ubahnya dukungan pihak-pihak asing terhadap GAM dan OPM.
Sebaliknya, keberadaan MILF juga merugikan bagi Indonesia. Meski secara resmi tidak mengakuinya, jelas sekali MILF mendukung para teroris asal Indonesia. Misalnya Dulmatin, salah satu pelaku Bom Bali 2002. Mereka berlindung di wilayah kekuasaan MILF dari kejaran para aparat keamanan, lalu berlatih kemiliteran di sana. Kemudian mereka menyelinap masuk kembali ke Indonesia dan menimbulkan berbagai kerusakan serius bagi bangsa dan negara kita.
Ketika masih jadi organisasi insurgent seperti sekarang, MILF sudah suka melindungi para penjahat yang beraksi di negara-negara lain. Bisa dibayangkan apa yang terjadi seandainya mereka berhasil mendirikan negara Moro merdeka. Hampir pasti mereka akan bersikap seperti rejim Taliban Afghanistan, yang membiarkan organisasi teroris internasional Al-Qaeda bermarkas di negaranya.
Ini bukan spekulasi mengada-ada. Dalam konsep negara syariat, dikenal konsep imperialisme ala Islam yang disebut futuhat. Modus operandinya dimulai dari dukungan negara Islam tersebut terhadap gerakan subversif pro-syariat di negara lain. Ketika gerakan tersebut ditindak tegas oleh pemerintah, negara Islam menjadikannya sebagai alasan untuk melakukan invasi, yang nantinya mengarah ke aneksasi. Demikian modus operandi ini akan diteruskan hingga seluruh dunia tertaklukkan.
Karena itu, seharusnya MILF dianggap sebagai ancaman serius bagi Indonesia. Bahkan bukan hanya Indonesia, melainkan juga negara-negara lain seperti Singapura dan Malaysia, yang turut dirugikan oleh para teroris yang dilindungi oleh MILF. Seandainya Indonesia, Singapura, dan Malaysia bersedia berkoordinasi secara kemiliteran dengan Filipina untuk memerangi MILF, mestinya banyak masalah yang bisa terselesaikan secara lebih singkat. Dunia internasional juga akan membenarkan langkah tersebut, sebagaimana dunia mengamini aksi tegas yang dilakukan oleh pemerintah Srilanka terhadap pemimpin gerakan separatis Tamil, Vellupilai Prabhakaran, beberapa saat yang lalu.
Sayangnya, yang patut diragukan adalah keberanian politis Presiden Yudhoyono untuk melakukan kebijakan yang drastis tapi efektif tersebut. Bisa kita lihat, bagaimana pemerintah tak kuasa menindak tegas Abu Bakar Ba’asyir, guru spiritual para teroris yang diburu oleh sejumlah negara Asia Tenggara, yang pesantren Ngruki-nya terus melahirkan para pengebom. Sejauh ini, Yudhoyono masih cenderung mengutamakan posisinya di mata para sekutu politiknya ketimbang keselamatan bangsa dan negara secara keseluruhan.